Untitled 4

Sunday, March 22, 2009

Untuk siapa saja yang mau membaca ini…

Coba renungkan lagi, tak ada rencana, bahkan tak pernah terfikir untuk memulainya. Saat sadar, telah dimulai begitu saja… entah kapan bermula dan sampai kapan berakhir. Dan anehnya tak pernah berhenti berfikir… tak pernah masuk akal mengapa satu ‘kata’ ini selalu saja memberi kekuatan penuh untuk membuat kita melakukan apa saja untuknya.
Kadang muncul pikiran, “ah, ini gila!!” tapi, tunggu! Hati kita yang bicara… yah, ini ajaib!!
Mungkin setidaknya bagiku…
‘Sakit’ menjadi teman baik yang mendewasakan. Kita belajar dedikasi, namun terkadang terbentur hal-hal personal dan prinsipil yang TIDAK MUNGKIN bisa diubah, apalagi disatukan, namun bisa dimengerti dan akhirnya berdampingan.
Kreativitas muncul begitu saja tanpa disadari dengan satu ‘kata’ ini sebagai pemicunya. Mungkin ini hasil transisinya. Namun, iya, itu fakta. Tak semua orang medapatkan transisi ‘kata’ ini. Tapi itu bukan masalah besar, hanya tergantung seberapa dalam ‘kata’ ini. Tak perlu ditebak, tapi, teruslah berfikir.

-inggar-

Untitled 3

Aku,
Aku bukan kau
Aku bukan dia
Aku bukan kalian
Aku bukan mereka
Aku bukan lalu
Aku bukan datang
Aku sekarang
Aku yang aku
Aku adalah aku

-Anggara Gilang-

Untitled 2

If I look to the past
I find it’s very difficult
to understand, to be wise
when my memory remain me
about my last story
it was hurt me more
everything that I ever through,
everything that I ever feel
what’s the meaning of what I feel?
What I am searching for?
Why do I feel?
Then, it will be end with
NOTHING…

-Vanya-

Untitled

Aku tak merasa kalah dalam penantian ini
Aku hanya merasa lelah yang teramat sangat
Setelah mengurung hatiku dalam cinta yang tak pernah berjawab

Aku seperti sesusuk duri yang tidak pernah kusadari
Seberapa dalam meninggalkan luka perih
Menikmati skaitnya sampai tak terasa lagi
Luka yang telah mengalirkan darah

Begitu dalamnya cinta menghujam
Hingga tak bisa kubedakan lagi mana tangis, mana tawa
Dua-duanya telah menjadi satu dalam butiran nelangsa

Terbata dalam kata, tertatih dalam jejaknya
Dan tersia-sia tanpa rekah bahagia

Aku mungkin belum kalah
Tapi yang pasti aku mulai kecewa
Membawa kakiku berjalan menjauh dari cintamu

Perlahan tapi pasti, tertahan tapi tak punya daya aku untuk kembali
Aku mungkin telah pergi tapi aku tak pernah berlari darimu…

-Moammar Emka-

di cancel lagi!

Thursday, March 19, 2009

Lagi, untuk kesekian kalinya bimbingan dibatalin lagi! bahkan ternyata tulisan gw yang udah gw kasih beberapa hari lalu ternyata belum dibaca! nyebelin dah.. padahal gw begadangan semalem buat nyelesein yg mau dikasih liat hari ini..
hmmm... cuma bisa bersabar aja deh..

caleg seleb??

semalem gw sempet nonton acara yang menghadirkan para caleg dari kalagan seleb... dulu, gw sempet mikir, "ah, paling artis cuma cari sensasi..melebarkan sayap.. dsb..." pendapat ini juga berlaku untuk sebagian masyarakat kita juga loh,, yg masih memandang fenomena "caleg artis" yang lagi marak itu sama kayak yang gw pikir..

tapi sebenernya gak bisa disalahin juga kan ya? bagi gw, yang penting proses. kalo emang tu artis di kaderin dulu di partainya, dididik dan sebagianya biar bisa menjadi calon legislatif atau eksekutif yang benar-benar mampu berpolitik (dalam arti baik), ya apa salahnya toh mereka maju ketika mereka memang dinyatakan sudah cukup layak dan lama berkecimpung di bidang politik?

mungkin sikap sebagian masyarakat yang apatis itu lebih dikarenakan ketika maraknya pilkada dan ternyata beberapa artis calonin diri sebagai calon independen...bukannya mau underestimate, tapi memimpin, berpolitik itubukan suatu hal yang mudah, harus udah ditempa melalui proses politik yang ada. minim pengalaman dalam berpolitik,lalu tiba-tiba ingin menjadi penguasa, kan kayaknya gak enak diliat aja gitu...gw setuju sama pendapat salah satu mahasiswa yang bilang, artis itu kan sering berperan di dunia sandiwara, terus kan politik ini nyata, bukan cuma sekedar sandiwara... jadi wajar-wajar aja toh kalo kita, sebagai anggota masyarakat jadi sedikit meragukan kapabilitas mereka di dunia perpolitik...

tapi sih, ya balik lagi sama kita yang nyikapin ini semua..kalo paracaleg dari artis itu punya kapabilitas, punya komitmen untuk membawa suatu perubahan yan glebih baik untuk masyarakat,dan cukup knowledge, kenapa nggak?? iya kan?!

Para Calon Wakil Rakyat Kita…

seminggu lalu, gw nonton acara di salah satu stasiun televisi swasta. Tema acara itu "aksi unik para caleg"...

Jadi di situ dikumpulin para caleg-caleg yg "gak biasa". Pasalnya, mereka berkampanye dengan macam-macam model. Ada "caleg superhero", "caleg seniman jalanan", "caleg anak jalanan", "caleg james bond", "caleg loper koran" dan bahkan ada caleg yang masang foto di balihonya bersanding dengan monyet. nah loh?!

Kocak aja lho ternyata nonton acara itu..gw masih amaze aja ternyata untuk jadi caleg sebegitunya ya... Emang sebenernya apa sih yang dicari kalo jadi anggota dewan itu? apa status? apa uang? atau idealisme semata?

Kemaren itu acara cuma menghadirkan pengamat politik dari FISIP UI dan dir.pusat kajian politik FISIP UI. Acara kemaren itu bukan acara debat, cuma sekedar tanya jawab ringan. Dari situ aja kita bisa liat, siapa yang benar-benar siap menjadi anggota dewan yang mewakili kita, rakyat biasa.

Bukan menyinggung atau apa, ada salah satu ucapan caleg yang sedikit menggelitik bahwa mencalonkan diri sebagai caleg hanya sekedar "hiburan". Kalah menang ya gak apa-apa karena kata dia, "sengotot apa pun kita, kalo rakyat gak suka, ya gak bisa menang..."

Actually, gw setuju pernyataan dia yang barusan, tapi gw gak setuju dengan pernyataan dia yang bilang kalau menjadi caleg hanya hiburan... Oh, men, ngurusin bangsa kita gak bisa dibilang hiburan loh..itu bicara tanggung jawab yang besar... kalo misalnya dia anggep ini semua cuma sekedar menghibur rakyat, lantas kebijakan apa yang bisa ia tawarkan untuk membawa bangsa ini jadi lebih baik?

Oiya, selain di acara itu gw juga dapet kiriman email dari temen gw, isinya tuh foto-foto spanduk/baliho para caleg dari mana-mana. Kacau-kacau dah… ada yang fotnya bareng harimau, ada pake golok, yang gaya metal, gaya rocker juga ada. Oiya, ada juga caleg yang di balihonya isinya pesen dari dia yang nyuruh kita selalu menggunakan tangan kanan pas makan. Pokoknya kocak-kocak dah… mantap laaaah pemilu kali ini… ngebuat para caleg kreatif banget bikin yang beda dari pesaingnya…

Baliho-baliho, poster, flayer atau apa pun itu, pasti makan biaya yang gak sedikit kan? Belum nanti pas kampanye… beuh, banyak banget pengeluaran pasti tuh… kalo kalah trus bayar semua itu pake apa bos?? Kalo menang, trus yakin gak tuh bakal menuhin janji-janji manis pas kampanye? Yakin gak buat balik modal tu duit?

Barangkali emang bener kalo ada pernyataan “publikasi yang kayak gitu terlihat membodoh-bodohi rakyat”. Apalagi sekarang mekanisme pemilihan udah gak kayak dulu lagi. Dengan 38 partai bisa dibayagin kan berapa banyak muka yang kepampang di jalan-jalan? Sekarang, hampir di semua sudut kita ngeliat poster-poster caleg-caleg dimana-mana, di sepanjang jalan, di pohon-pohon, di tembok-tembok yang nganggur dikit, warung-warung pinggir jalan yang gak ada hiasannya, di pintu-pintu atau jendela-jendela di angkot, metromini, kopaja, bahkan di tiang listrik! Pokoknya gak bisa liat ada space kosong dikit aja, di hajar… ckck..jadi kotor banget gak sih sekarang ini? Kebanyakan gambar orang yang gede-gede begitu…ampuuuuuuunnnn daah…

Tapi, sebenernya ada segi positifnya sih, sekarang ini dengan latar belakang apa pun bisa calonin diri jadi seorang wakil rakyat. Dari acara semalem nunjukkin kalo seorang anak jalanan, pengamen, loper koran udah bisa jadi seorang wakil rakyat. Benar-benar menunjukkan suatu proses yang demokratis sekali bukan?? Semoga arti demokrasi sekarang ini gak bergeser…

Tapi gak apa-apa kan kita khawatir kalau orang-orang yang bisa dibilang minim pengalaman dalam dunia politik terjun menjadi anggota dewan? Takut-takutnya nanti mereka lebih berorientasi mewakili golongan mereka sendiri atau bahkan malah jadi “boneka” oleh orang-orang yang punya kekuasaan lebih.

Yah we’ll see lah gimana pemilu bulan depan. Apa nantinya orang-orang seperti mereka-mereka itu yang “unik” bisa dipilih rakyat untuk memegang amanah rakyat? Apakah mereka bisa membawa perubahan untuk rakyatnya??! That’s still a big question for us…